Tak ada lagi perayaan setelah ini

Bertubi-tubi kata keluar dari mulut itu, manis; namun tidak tepat.
Sebentar lagi,
Tak akan lama lagi,

Pintu memang masih terbuka
Dan akan terbuka
Siap saja hadapi dengan siapa
Hidup siapa yang tahu

Sudah bosan menelan janji
Sudah jenuh dengan hal risih, hati pembohong tak akan peka dengan itu, hari-harinya entah penuh dengan apa.

Bila mana gelas pecah dan membuat kau terluka, itu keinginan terakhir, dan bukan permintaan semula.

Sepakat tak bisa meyakinkan untuk melekat
Sebahu juga tak bisa meyakinkan untuk bersatu
Searah bisa saja menjadi pecah
Ini namanya tantangan hidup.

Epota

Dimulai dari rasa hati
Semua telah kembali
Stabil, teduh, namun rindu.
Semakin jarak semakin rindu.

Ingin hati selalu begitu; bersama,
Namun semua tak bisa ditebak
Semua tak bisa kita yang kehendaki
Jalan sudah tersusun rapi

Dalam lubuk hati terdalam
Ingin bersama dalam sama
Ingin bersenang dalam kasih
Ingin nyaman dalam keramaian
Sabar.

Serindu apapun hidup
Tenang, bersama pasti ada
Semua akan menang
Amiin.

Utuh itu butuh, misal keluarga yang utuh

Tulisan pagi

Pagi ini,
Kursi telah dibekasi oleh mereka yang pandai
Alur tangan mengikuti alur pikiran
Suasana mampu dicairkannya
Hitam putih sudah dipecahkan.

Tak terpikir berapa lama waktu dihabiskan
Tak terlintas berapa gelas sudah dipesan
Gerak tak ditahan, semakin melaju;
Semakin segar.

Diakhir waktu, semua terasa bagai ilusi
Rupanya satu persatu kebahagiaan dihidup mereka mulai usai
Bahkan badan terasa usang
Wah sial, seharusnya tak patut berlanjut.

Ketawa hanya hal menutupi
Kesedihan tak bisa hindari
Untuk hal airmata, sudah sepantasnya jalan tergarisi
Makin kesana, makin kemana aku ini.

Tulisan sipulan yang baru menyeduh sedih.

Redup

Pada waktu yang tak diinginkan
Semua telah kehilangan rasa
Tak ada lagi kata sapa
Tak ada lagi kata mesra

Egois sudah menjadi darah
kau tak bertanya tentangku
Bahkan kabarku
Dan aku menunggu itu

Tak lama lagi aku pulang
Cukup lelah untuk dibayangkan
Tak ada kata sapa, bahkan rindu
Sebab terlalu jemu

Semestinya menunggu bukan kesukaanku
Mau tak mau
Suka tak suka
Nanti juga bakal terbiasa.

Amerta

Karya: M. Ridha Aulia

Aku mau lepas dari segala
Pergilah
Juga dari dia

Sudah pernah
Kurakit sepatah kata cinta
Sudah pernah juga
Kupercaya pada sumpah cinta

Sedang berbunga
Seketika menguncup
Terbawa layu

Tapi kini
Hidup terlalu tenang
Bunyian itu sudah pergi
Ikhlas sudah

Rasa ini sudah menyegam
Rasa ini sudah kukirai
Antara bau busuk dan tiga serangkai.

Organon

Karya: M. Ridha A

Duka hati membeku
Meredup, kecup, mati
Dalam hati terlalu ingin
Dasar

Kemarin sejalan, setapak
Sekarang cukup mengelak
Dasar, batu.

Hati mati,
Tubuh beku,
Masih sempat berpesan
Jangan pergi.

Siang ini cukup panas
Tahan, jangan melawan
Akan kecewa,
Pasti.

Semoga mendung,
Tidak modar, sabar
Harus sabar.

Tubuhmu sudah layu
Celaka, keparat
Jangan banting

Dalam rinai berpesan
Boleh pergi?

Juli19

Antah Berantah

Karya: M. Ridha A

Tuanku suka kabu
Mengelak, setapak hingga bisu
Banyak diam, tak melawan
Diam saja

Tuanku abus, aki
tidak berharga, sedikit sekali

Tuanku kirai,
Tidak suka mengangguk
Suruh pergi

Tuanku celaka,
Tidak senang, kecewa dan sebagainya

Tuanku merodok,
Hidup, mati atas pilihannya

Dan pada hal yang kecam,

Tuanku minggat,
Tanpa izin, melarikan diri.

Tuan sial, juli19

Petaka

Karya: M. Ridha A

Dari pagi hingga malam
Dia sibuk mencari
Entah jati diri
Ataupun angin alam

Tak hirau koyak hati
Tak peduli sakit jiwa
Niatnya ikhlas
Sekalipun mati keadaan mengenas

Tidak tertahankan
Pintu jalan mulai dibuka
Suara gemuruh mulai berirama
Hantaman ia mengecam batin

Arus deras mulai dilalui
Satu persatu
Hingga tangis yang dia tinggalkan,
Menjadi rindu

Tak terkira salam yang dilewatkan
Tegur, sapa hingga ancam
Sudah hilang satu senyuman?
Semoga

Pagi itu telah usai
Selamat datang malam

Dia tidak ingin terbaring dulu
Susah senang belum dijumlahkannya satu persatu
Dia lupa
Petaka menghampiri sebentar lagi

Janji tinggal janji
Senyum mulai hilang
Tanpa aku dan kau
Petaka tetap menerjang.

Tulisan Kamis malam dari seorang yang terkapar dikamar impiannya sendiri,19.52

Topeng Pengecut

Karya: M Ridha A

Mengapa kau tidak bersemangat hari ini tuan?
Bukankah diluar sedang ramai
Atau kau sedang tidak baik- baik saja.

Tak usah kau jawab
Tak usah pula kau tutupi
Topeng pengecutmu tidak mempan diwajahku
Kau terlihat tidak biasa sepertinya

Baiklah, aku mengerti
Aku paham
Beri sedikit waktu luang untukku
Aku juga ingin bercerita tentang hari ini

Patahan kayu itu tidak wajar tuan
Dia lebih dulu dari yang semestinya
Apa aku harus juga begitu?
Bisakah itu kutiru?

Tolong jawab tuan,
Sebelum bergegas kupergi
Tolong jumpaiku diwaktu sendu
Sambil kita merenung yang semestinya dilalui

Kanan atau mati.

Merdoe, 4 Juli 19

Antara Kacau dan nelangsa

Karya: M. Ridha Aulia

Pada saat yang tak diharap,
Datang dia seorang perasa,
Ya, tentu tidak dengan rasa bahagia
Melainkan cemas dan duka.

ia datang seorang diri,
Menyapa dan tidak mudah pergi
Menusuk dan terus menusuk
Hingga nyawa direnggut mati.

Selepas beberapa terkapar
Tinggal hanya sebagian
Berniat menumbangkan semua
Tanpa iba ia ditunduk nafsu

Pernah diketuk mimpi
Diketuk dan terus diketuk
Sampai saatnya ia terbangun
Rupanya, ada bahagia diluar menunggu

Banyak tak paham mengapa dia begitu
Suka menerkam dan meninggalkan bisu
Mengira dia sedang sedih
Atau hanya Kacau yang membuat dia sedikit berubah

Untuk yang diharapkan
Segeralah mendekat
Jangan biarkan nelangsa merajalela
Atau tidak, kacau adalah obatnya.

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai